KERAJINAN MEBEL BAMBU

PROSES PRODUKSI
Proses produksi pada dasarnya merupakan suatu bentuk kegiatan untuk mengolah satuan bahan baku (input produksi) menjadi produk (output produksi). Untuk melaksanakan proses atau kegiatan tersebut diperlukan satu rangkaian proses pengerjaan yang bertahap. Perancangan proses produksi dalam hal ini akan tergantung pada karakteristik produk yang dihasilkan dan pola kebutuhan yang harus dipenuhi dalam proyek pembuatan produk.
Proses produksi yang dilakukan dalam kegiatan usaha kerajinan mebel bambu hanya memerlukan peralatan yang sederhana karena lebih banyak memanfaatkan keahlian/ keterampilan tangan manusia untuk menghasilkan produk kerajinan ini. Tahapan yang dilalui dalam proses produksi mebel bambu terlihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Diagram Alir Proses Produksi Kerajinan Mebel Bambu

A. Persiapan Bahan Baku dan Bahan Pembantu

Bahan baku dalam kegiatan usaha ini adalah bambu wulung hitam (Gigantochloa verticillata) yang masih dapat diperoleh dengan mudah di dalam wilayah Kabupaten Purworejo. Pihak pengrajin dimudahkan dalam penyediaan bahan baku tersebut, karena petani bambu telah menyiapkan kebutuhan batang bambu hingga pengangkutan ke sanggar bambu.

Kebutuhan bahan pembantu berupa rotan tali, rotan gelondong dan rotan antik umumnya diperoleh dari Jepara dan Cirebon melalui pedagang langsung. Ada beberapa pengrajin yang bertindak sebagai pedagang juga, sehingga pada saat pengangkutan produk mebel ke Jepara atau Cirebon, maka pada saat kembali selalu mendapatkan titipan dari sesama pengrajin untuk berupa tali rotan tersebut.

A.1. Pengeringan

Bambu yang digunakan untuk pembuatan mebel umumnya dipotong setelah berumur 13 bulan dengan pertimbangan bahwa bambu tersebut telah memiliki umur dan ketebalan batang yang cukup untuk diolah menjadi produk kerajinan. Pada daerah tropis, tanaman bambu biasanya kurang tahan lama karena mengandung kanji yang disukai oleh rayap dan menjadi tempat tumbuh yang baik bagi cendawan akibat suhu dan kelembaban tinggi sehingga diperlukan proses pengeringan dan pengawetan bambu agar menjadi lebih keras dan mampu bertahan hingga lebih dari 10 tahun.

Bambu yang telah dipotong cukup disandarkan dalam keadaan berdiri agak tegak (kemiringan 75 derajat) ditempat yang cukup teduh dan dibiarkan sampai kadar airnya berkurang. Posisi bambu pada saat proses pengeringan diupayakan jangan sampai terkena sinar matahari langsung secara terus menerus karena batang bambu bisa melengkung dan membentuk warna yang tidak dikehendaki, sesekali perlu dilakukan penyusunan ulang dengan membalikkan posisi sandar sehingga bambu dapat kering secara merata.

Untuk menghindari kelembaban tanah yang naik ke batang, sebaiknya batang bambu dilindungi dengan menggunakan batu pada bagian bawah batang yang telah dipotong. Proses pengeringan ini memakan waktu 4-7 hari, apabila hari sering turun hujan makan proses pengeringan akan berjalan lebih lama.


Photo 4.2. Proses Pengeringan Bambu Secara Alami

A.2. Pengawetan/Penyimpanan

Ada beberapa metode pengawetan yang diterapkan pada batang bambu, yang disesuaikan dengan peruntukan bambu tersebut. Bambu untuk keperluan bahan kerajinan anyaman akan mengalami proses pengawetan yang cukup lama, yaitu sekitar 3-6 bulan dengan cara direndam ke dalam kolam yang menggenang atau mengalir pelan.
Sementara bambu untuk bahan baku pembuatan mebel bambu setelah dikeringkan melalui proses penyandaran cukup ditiriskan/diletakkan dengan posisi tidur pada satu bangunan yang terlindung dari panas dan hujan namun masih dapat terkena angin secara langsung (di angin-anginkan). Proses ini memakan waktu antara 15-20 hari hingga bambu siap untuk diolah menjadi mebel bambu.


Photo 4.3. Proses Pengawetan / Penyimpanan Bambu
B. Proses Produksi

Dalam menjalankan proses produksi, para pengrajin mebel bambu di Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo memiliki teknik yang sama, yaitu pembuatan rangka mebel, pengikatan dengan rotan tali, penyusunan iratan pada alas kursi dan meja serta iratan pada sandaran kursi yang sudah diukir. Pada tahapan akhir dilakukan proses finishing dengan cara mengampelas, memberi vernis atau melamin serta proses pengeringan. Tahapan-tahapan tersebut akan dibahas berikut ini.

1). Pembuatan bagian-bagian mebel

Dari keseluruhan proses produksi pembuatan kerajinan mebel bambu, tahapan pembuatan rangka merupakan tahapan paling kritis dalam usaha ini, karena perlu perhitungan yang tepat dalam ukuran maupun pembuatan lubang untuk sendi/siku. Beberapa pengrajin memiliki tenaga kerja terampil khusus untuk pembuatan rangka ini sehingga tingkat kerusakan/kegagalan dapat ditekan.

Untuk membuat satu set kursi model Sudut diperlukan sekitar 6 batang bambu dan 12 batang untuk model Sofa. Batang bambu yang telah diukur untuk masing-masing bagian dalam rangka mebel akan dipotong dengan menggunakan gergaji kayu. Batang bambu dengan diameter terbesar (bagian bawah bambu) difungsikan sebagai kaki-kaki kursi (posisi vertikal) karena bagian ini memiliki ketebalan batang paling besar sehingga memiliki kekuatan yang paling besar pula. Sementara untuk batang bambu yang lebih kecil akan digunakan untuk palang bilah dengan posisi horizontal.

Photo 4.4. Proses Persiapan dan Pembuatan Bagian Mebel Bambu
(A) Bambu siap untuk proses produksi,
(B) Pembuatan Lobang Siku, (C) Lobang Siku
2). Perakitan
Proses perakitan mebel kayu dimulai dengan pekerjaan memasukkan bambu kedalam bagian kaki kursi yang telah dilubangi (Photo 4.). Ukuran lobang harus disesuaikan dengan ukuran batang bambu yang akan dimasukkan agar rangka kursi tidak bergoyang, dan proses ini harus dilakukan dengan hati-hati agar bambu tidak retak dan rangka mebel dapat berdiri dengan kokoh. Hingga tahapan ini setiap rangka akan diperiksa secara teliti oleh pengrajin karena hasil ini akan sangat mempengaruhi kualitas akhir.
Untuk memperkuat posisi sudut dari rangka, maka dilakukan pengikatan dengan menggunakan rotan tali, seperti terlihat pada Photo 4.6. Pengikatan ini selain agar posisi sambungan sudut lebih kuat juga memberikan sentuhan seni yang dapat meningkatkan nilai jual produk ini. Ikatan dengan tali rotan akan dilakukan pada bagian rangka yang dinilai cukup banyak dipandang mata sehingga menambah daya tarik mebel tersebut.

Photo 4.5. Proses Perakitan Mebel Bambu
Photo 4.6. Proses Pengikatan Sudut Kursi dengan Rotan Tali
Untuk model Sudut, jumlah bagian mebel yang diikat dengan rotan berjumlah 42 buah, dengan rincian 2 buah kursi dengan 2 sandaran masing-masing 9 ikatan, kursi 1 sandaran terdapat 8 ikatan, meja sudut 12 ikatan dan meja tengah 4 ikatan. Berat rotan tali yang dibutuhkan untuk satu set mebel kayu model Sudut sekitar 85 gram, sedangkan untuk model Sofa dibutuhkan sekitar 100 gram rotan tali. Sedangkan untuk model Sofa dibutuhkan 32 ikatan dengan rincian kursi dengan sandaran 3, 2, 1 dan meja masing-masing memiliki jumlah ikatan 8 buah.

3). Pelupuh

Pelupuh atau papan bambu adalah susunan dari batangan bambu yang dibelah dengan menggunakan parang pada satu sisi dari atas ke bawah dan berbentuk iratan/belahan batang dengan ukuran lebar sekitar 2 cm. Iratan tersebut kemudian disusun hingga berbentuk seperti papan atau dinding. Bentuk ini juga memberikan nilai seni tersendiri dan memudahkan sirkulasi udara khususnya untuk bagian bawah kursi maupun meja.

Pada kerajinan mebel bambu ini pelupuh terdiri dari 2 macam, yaitu pelupuh polos dan pelupuh ukir. Tidak ada perlakukan khusus untuk pelupuh polos karena batang bambu hanya dipotong sesuai ukuran yang diperlukan. Untuk pelupuh pada alas duduk ditata sejajar dan diikat rotan antik dengan cara membentuk huruf "X" dan diikatkan ke batang bambu yang dipasang dibawah susunan iratan tersebut sehingga masing-masing iratan dapat terikat dengan erat (Photo 4.7).
Photo 4.7.Penyusunan Pelupuh Alas Kursi dan Bentuk Pengikatan
dengan Rotan Cantik
Sementara itu proses penyusunan pelupuh ukir diberlakukan beberapa tahapan (Photo 4.8), yaitu:
  • Batang bambu yang akan dijadikan pelupuh ukir harus dipilih dari bagian batang yang baik;
  • Batang bambu diukir oleh tenaga terampil yang memang memiliki keterampilan khusus untuk melakukan ukiran pada batang bambu.
  • Batang bambu yang telah diukir akan diserut/seset menggunakan pisau raut untuk menghilangkan kulit bambu yang berwarna hitam pada bagian-bagian yang telah ditentukan, sehingga motif ukiran akan terlihat dengan jelas.
  • Proses selanjutnya adalah pemotongan batang bambu tersebut menjadi iratan-iratan dan disusun menjadi pelupuh.
Photo 4.8. Proses Pengukiran Bambu
Seperti terlihat pada Photo 4.9, bilah bambu yang telah diukir dan diseset/serut kulit bagian luar dengan menggunakan pisau raut selanjutnya dipotong-potong menjadi iratan-iratan dan disusun hingga berbentuk pelupuh/papan bambu. Pemotongan bambu ukir tersebut harus dilakukan dengan hati-hati agar bentuk potongan lurus sehingga mudah untuk disusun pada sandaran kursi atau alas meja. Apabila pelupuh sudah tersusun rapi dilakukan pengikatan dengan rotan gelondong pada bagian pinggir pelupuh yang mengitari sandaran kursi.


Photo 4.9. Proses Pemasangan Pelupuh Ukir

4) Finishing

Proses finishing dilakukan apabila seluruh proses perakitan sudah selesai dilaksanakan dan telah mendapat pengecekan dari pengrajin. Proses finishing yang dilakukan meliputi kegiatan :
  • mengampelas seluruh ruas bambu agar halus. Cara mengampelas tidak boleh terlalu keras karena bisa merusah warna bambu yang sudah alami;
  • memberi vernis atau melamin pada seluruh lapisan bambu menggunakan kuas, dengan maksud untuk mempercantik mebel serta memberikan lapisan kepada kulit bambu agar kuat dan tahan lama/awet.
Setelah proses finishing dilakukan, mebel bambu tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena akan memudahkan terjadinya pecah-pecah pada lapisan yang telah divernis/melamin, mebel cukup ditata di tempat penyimpanan atau di ruang pamer sehingga dapat terkena hembusan angin secara langsung. Vernis/melamin tersebut akan kering dalam waktu 2-3 jam dan mebel siap untuk dijual
 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Add to Google Reader or Homepage